Kelompok Patch pannel dan management LAN
video presentasi :
Kelompok Patch pannel dan management LAN
video presentasi :
Elemen Teknologi Jaringan Kabel dan Nirkabel
Fase F
LKPD: Merancang dan Pemasangan Jaringan Fiber Optik Outdoor
1. Informasi Umum
Mata Pelajaran: Teknologi Jaringan Kabel dan Nirkabel (TJKN)
Kelas/Semester: XII / Ganjil
Alokasi Waktu: 3 Pertemuan
Kompetensi Dasar (KD):
Menganalisis perancangan jaringan fiber optik outdoor.
Melakukan instalasi jaringan fiber optik outdoor.
Tujuan Pembelajaran: Setelah menyelesaikan LKPD ini, peserta didik diharapkan mampu:
Mengidentifikasi komponen-komponen jaringan fiber optik outdoor.
Merancang topologi jaringan fiber optik outdoor sesuai studi kasus.
Melakukan persiapan dan pemasangan kabel fiber optik outdoor dengan benar.
Melakukan terminasi (splicing/konektorisasi) dan pengujian jaringan fiber optik outdoor.
Mengidentifikasi potensi masalah dan solusi dalam instalasi jaringan FO outdoor.
2. Petunjuk Penggunaan LKPD
Baca dan pahami setiap instruksi dengan seksama.
Gunakan alat dan bahan sesuai prosedur keselamatan kerja.
Diskusikan dengan kelompok.
Catat semua hasil pengamatan dan identifikasi masalah yang ditemukan.
Jawab setiap pertanyaan dan selesaikan tugas yang diberikan.
3. Teori Singkat
Fiber Optik (FO) adalah media transmisi data yang menggunakan cahaya sebagai pembawa sinyal. Keunggulan utamanya meliputi bandwidth yang sangat besar,
kemampuan transmisi jarak jauh tanpa kehilangan sinyal signifikan, dan kekebalan terhadap interferensi elektromagnetik.
Kabel FO Outdoor dirancang khusus untuk kondisi lingkungan luar ruangan yang ekstrem (suhu, kelembaban, tekanan mekanis). Jenisnya meliputi:
Kabel Udara (Aerial): Dipasang di tiang, memiliki selubung pelindung yang kuat dan biasanya dilengkapi kawat penggantung.
Kabel Tanam Langsung (Direct Buried): Ditanam langsung di dalam tanah, dilengkapi lapisan pelindung anti-rodent dan moisture barrier.
Kabel dalam Duct (Duct Cable): Dimasukkan ke dalam pipa pelindung (ducting) di bawah tanah, biasanya lebih tipis dari direct buried.
Komponen Utama Jaringan FO Outdoor:
Kabel Fiber Optik: Single-mode (jarak jauh) atau Multi-mode (jarak pendek).
Perangkat Aktif: OLT (Optical Line Terminal) di sisi penyedia, ONU/ONT (Optical Network Unit/Terminal) di sisi pelanggan, Media Converter untuk konversi sinyal optik ke elektrik.
Perangkat Pasif:
Spliter Optik: Membagi sinyal optik ke beberapa jalur.
ODC (Optical Distribution Cabinet): Kabinet distribusi optik di luar ruangan.
ODP (Optical Distribution Point): Titik distribusi optik yang lebih kecil.
Joint Closure: Tempat penyambungan dan perlindungan serat optik.
Roset Optik: Kotak terminasi di sisi pelanggan.
Pigtail & Patch Cord: Kabel serat optik pendek dengan konektor di satu/kedua ujung.
Konektor: SC, LC, FC, dll., untuk menyambungkan kabel ke perangkat.
Peralatan Instalasi & Pengujian:
Fusion Splicer: Alat untuk menyambung dua serat optik dengan fusi panas.
OTDR (Optical Time Domain Reflectometer): Menguji panjang kabel, redaman, dan lokasi event (sambungan, patahan).
OPM (Optical Power Meter) & OLS (Optical Light Source): Mengukur redaman total kabel.
Cleaver: Pemotong serat optik presisi.
Stripper: Pengupas lapisan pelindung serat.
VFL (Visual Fault Locator): Menyalakan cahaya merah untuk mendeteksi patahan serat.
Keselamatan Kerja (K3): Sangat krusial dalam instalasi outdoor. Gunakan Alat Pelindung Diri (APD) seperti helm, sarung tangan, sepatu safety, dan rompi reflektif. Waspada terhadap bahaya listrik, ketinggian, dan lingkungan.
4. Alat dan Bahan
No.
Nama Alat/Bahan
Jumlah
Keterangan
A. Alat
1. Fusion Splicer
1 unit
Untuk penyambungan serat optik
2. OTDR (Optical Time Domain Reflectometer)
1 unit
Untuk pengujian kualitas link dan redaman event
3. Optical Power Meter (OPM)
1 unit
Untuk mengukur redaman total
4. Optical Light Source (OLS)
1 unit
Pasangan OPM untuk pengukuran redaman
5. Fiber Cleaver,1 unit,Pemotong serat optik presisi
6.Fiber Stripper (Miller Stripper),1 unit,Pengupas lapisan serat optik
7.VFL (Visual Fault Locator),1 unit,Detektor patahan serat (cahaya merah)
8.Tool kit kabel FO (tang potong, obeng, gunting kevlar, dll.),1 set,Perlengkapan bantu
9.Tangga (jika simulasi pemasangan udara),1 unit
,Alat bantu ketinggian
10.APAR (Alat Pemadam Api Ringan)
1 unit
Untuk keselamatan kerja
11. Perlengkapan K3 (helm, sarung tangan, sepatu safety, rompi)
1 set/peserta
Wajib digunakan selama praktikum
No.
Nama Alat/Bahan
Jumlah
Keterangan
A. Alat
1. Fusion Splicer
1 unit
Untuk penyambungan serat optik
2. OTDR (Optical Time Domain Reflectometer)
1 unit
Untuk pengujian kualitas link dan redaman event
3. Optical Power Meter (OPM)
1 unit
Untuk mengukur redaman total
4. Optical Light Source (OLS)
1 unit
Pasangan OPM untuk pengukuran redaman
5. Fiber Cleaver
1 unit
Pemotong serat optik presisi
6. Fiber Stripper (Miller Stripper)
1 unit
Pengupas lapisan serat optik
7. VFL (Visual Fault Locator)
1 unit
Detektor patahan serat (cahaya merah)
8. Tool kit kabel FO (tang potong, obeng, gunting kevlar, dll.)
1 set
Perlengkapan bantu
9. Tangga (jika simulasi pemasangan udara)
1 unit
Alat bantu ketinggian
10. APAR (Alat Pemadam Api Ringan)
1 unit
Untuk keselamatan kerja
11. Perlengkapan K3 (helm, sarung tangan, sepatu safety, rompi)
1 set/peserta
Wajib digunakan selama praktikum
B. Bahan
1. Kabel Fiber Optik Outdoor
[Panjang sesuai skenario]
Single-mode/Multi-mode (sesuai kebutuhan)
2. Pigtail / Patch Cord (sesuai konektor)
[Jumlah sesuai kebutuhan]
Untuk terminasi di Joint Closure/ODP
3. Konektor FO (misal: SC/UPC, LC/UPC)
[Jumlah sesuai kebutuhan]
Untuk Pigtail/Patch Cord
4. Joint Closure / ODC / ODP (miniatur/simulasi)
1 unit
Tempat penyambungan dan distribusi
5. Alkohol Isopropil (IPA)
Secukupnya
Untuk membersihkan serat
6. Tisu Pembersih Optik (Lint-free wipes)
Secukupnya
Untuk membersihkan serat
7. Heat Shrink Sleeve
[Jumlah sesuai sambungan]
Pelindung hasil splicing
8. Tali penarik kabel (pulling rope)
Secukupnya
Unt
uk simulasi penarikan kabel
9. Klem kabel, selongsong pelindung
Secukupnya
Untuk tata rapi dan perlindungan
B. Bahan
1. Kabel Fiber Optik Outdoor
[Panjang sesuai skenario]
Single-mode/Multi-mode (sesuai kebutuhan)
5. Langkah Kerja (Praktikum)
A. Perancangan Jaringan (Studi Kasus)
Skenario: Sebuah pabrik baru akan dibangun di kawasan industri dan membutuhkan koneksi internet berkecepatan tinggi dari gedung pusat kontrol yang berjarak 800 meter. Lingkungan antara gedung pusat dan pabrik adalah area terbuka dengan kemungkinan penanaman kabel di bawah tanah (ducting) atau pemasangan melalui tiang listrik yang sudah ada. Pabrik tersebut memerlukan 10 titik koneksi LAN.
Tugas Perancangan:
Gambarlah topologi jaringan fiber optik yang Anda usulkan untuk studi kasus di atas. Gunakan simbol standar jaringan.
Identifikasi dan jelaskan jenis kabel FO outdoor yang paling sesuai untuk skenario ini, serta alasannya (misal: single-mode/multi-mode, jenis konstruksi outdoor).
Daftarkan komponen aktif dan pasif yang dibutuhkan beserta perkiraan jumlahnya untuk menghubungkan gedung pusat kontrol ke pabrik dan mendistribusikan koneksi di dalam pabrik.
Perkirakan panjang total kabel FO yang diperlukan.
Buat daftar peralatan instalasi dan pengujian yang akan digunakan.
Sebutkan minimal 3 (tiga) rencana keselamatan kerja (K3) yang harus diperhatikan selama instalasi jaringan FO outdoor pada skenario ini.
B. Persiapan Alat dan Bahan
Siapkan semua alat dan bahan yang tercantum pada daftar.
Periksa kondisi alat dan bahan, pastikan berfungsi dengan baik dan aman untuk digunakan.
Pastikan Anda telah mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai (helm, sarung tangan, sepatu safety, rompi reflektif).
C. Prosedur Pemasangan Kabel FO Outdoor (Simulasi/Miniatur)
Simulasi Penarikan/Bentangan Kabel:
Jika menggunakan simulasi penarikan di ducting, masukkan tali penarik ke dalam pipa simulasi. Ikat ujung kabel FO pada tali penarik dan tarik perlahan hingga kabel melewati seluruh jalur.
Jika simulasi pemasangan udara, bentangkan kabel FO di antara tiang-tiang miniatur/penopang. Pastikan kabel tidak tegang berlebihan atau melengkung tajam.
Perhatikan radius tekuk minimum kabel FO agar serat tidak rusak.
Pemotongan dan Pengupasan Kabel:
Ukur panjang kabel yang akan diproses (misalnya untuk terminasi di Joint Closure/ODP).
Gunakan fiber stripper untuk mengupas lapisan luar kabel, tube (jika ada), dan coating serat optik dengan hati-hati. Pastikan serat optik yang terbuka bersih dari sisa-sisa coating atau gel.
Bersihkan serat yang terbuka dengan alkohol isopropil dan tisu pembersih optik hingga bersih.
D. Terminasi dan Splicing
Penyiapan Pigtail/Patch Cord:
Siapkan pigtail/patch cord yang akan disambungkan dengan kabel FO utama.
Bersihkan konektor dan serat pigtail/patch cord.
Proses Splicing (Penyambungan Serat):
Nyalakan fusion splicer.
Gunakan fiber cleaver untuk memotong ujung serat kabel FO dan pigtail/patch cord secara presisi dengan sudut 90 derajat. Pastikan permukaan potongan sangat rata dan bersih.
Letakkan serat yang sudah di-cleave ke dalam V-groove pada fusion splicer.
Tutup pelindung splicer dan mulai proses splicing. Amati pada layar splicer, pastikan proses fusi berjalan baik dan loss (redaman) yang dihasilkan rendah (biasanya <0.05dB).
Setelah splicing selesai, pasang heat shrink sleeve pada sambungan untuk melindunginya. Panaskan hingga menyusut dan melekat sempurna.
Pemasangan di Joint Closure/ODC/ODP (Simulasi):
Atur dan tata hasil splicing serta sisa panjang serat di dalam tray serat optik pada joint closure/ODC/ODP. Pastikan serat tersusun rapi, tidak melengkung terlalu tajam, dan terlindungi.
Tutup joint closure/ODC/ODP dengan rapat dan aman.
E. Pengujian Jaringan Fiber Optik
Pengujian Kontinuitas (VFL):
Hubungkan VFL pada salah satu ujung serat/konektor yang sudah terminasi.
Amati ujung serat yang lain. Jika ada cahaya merah yang terlihat, serat tersebut kontinu. Jika tidak, atau cahaya terputus di tengah, kemungkinan ada patahan atau masalah lain.
Pengujian Redaman (OPM & OLS):
Hubungkan OLS pada salah satu ujung kabel FO yang sudah terminasi.
Hubungkan OPM pada ujung kabel FO yang lain.
Nyalakan OLS dan OPM. Catat nilai redaman (dalam dB) yang terbaca pada OPM. Bandingkan dengan nilai redaman standar yang diizinkan untuk panjang kabel tersebut.
Pengujian Jarak dan Kualitas (OTDR):
Hubungkan OTDR pada salah satu ujung kabel FO yang sudah terminasi.
Lakukan scan pada OTDR. Atur parameter sesuai panjang dan jenis kabel.
Analisis grafik hasil scan OTDR. Identifikasi "event" (titik sambungan, konektor, patahan, ujung kabel) dan catat nilai redaman pada setiap event.
Evaluasi kualitas keseluruhan link berdasarkan kurva OTDR (misal: smoothness, adanya refleksi tinggi).
6. Hasil Pengamatan dan Analisis
A. Hasil Pengujian Redaman (OPM & OLS)
Titik Pengujian
Panjang Kabel Terukur (m)
Redaman Terukur (dB)
Redaman Standar (dB/km)
Redaman Ideal (dB) (Panjang x Standar)
Keterangan (Baik/Tidak Baik)
Link Utama Pabrik
B. Analisis Data OTDR
Jelaskan event-event apa saja yang terdeteksi pada grafik OTDR (misalnya: konektor, splicing, ujung kabel).
Bagaimana nilai redaman pada setiap event? Apakah sesuai standar?
Evaluasi kualitas keseluruhan link berdasarkan bentuk kurva OTDR. Apakah ada refleksi berlebihan atau patahan yang terdeteksi?
C. Identifikasi Masalah & Solusi
No.
Masalah yang Ditemukan Selama Praktikum
Penyebab yang Diperkirakan
Solusi yang Dilakukan/Disarankan
7. Diskusi dan Pertanyaan
Jelaskan fungsi masing-masing komponen pasif berikut dalam jaringan FO outdoor: Joint Closure, ODP, dan Spliter Optik!
Fungsi komponen pasif FO outdoor
-Joint Closure: pelindung sambungan kabel FO agar kedap air, debu, dan aman dari lingkungan luar.
-ODP (Optical Distribution Point): titik distribusi serat ke pelanggan, biasanya terpasang di tiang atau box.
-Splitter Optik: membagi satu sinyal optik menjadi beberapa output untuk melayani banyak pengguna.
Mengapa keselamatan kerja (K3) sangat penting dalam instalasi jaringan FO outdoor? Berikan minimal 3 (tiga) contoh bahaya yang mungkin terjadi dan bagaimana cara menghindarinya!
Pentingnya K3 dalam instalasi FO outdoor
K3 penting untuk melindungi teknisi dari kecelakaan dan menjaga instalasi tetap aman. Tiga contoh bahaya:
Terjatuh dari tiang/gedung → gunakan APD (helm, body harness).
Tersengat listrik karena kabel FO dekat dengan kabel listrik → jaga jarak aman, matikan listrik bila perlu.
Mata terkena serpihan serat optik → gunakan kacamata pelindung dan buang sisa serat dengan aman.
Apa perbedaan utama antara kabel FO indoor dan outdoor dari segi konstruksi dan material?
Perbedaan kabel FO indoor vs outdoor
Indoor: lapisan pelindung tipis, fleksibel, mudah ditarik di dalam gedung.
Outdoor: lapisan lebih tebal, tahan UV, air, kelembapan, gigitan hewan, dan kondisi cuaca.
Bagaimana Anda menentukan jenis kabel FO (single-mode atau multi-mode) yang paling tepat untuk suatu studi kasus perancangan, khususnya untuk jarak jauh seperti pada skenario ini?
Single-mode (SM): dipakai untuk jarak jauh (puluhan km) karena redamannya rendah.
Multi-mode (MM): dipakai untuk jarak pendek (≤2 km) seperti di dalam gedung.
Jadi, untuk studi kasus jarak jauh, yang tepat adalah single-mode.
Jika hasil pengujian redaman menggunakan OPM melebihi batas toleransi yang diizinkan, apa saja kemungkinan penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya?
Kemungkinan penyebab:
Sambungan/konektor kotor atau longgar.
Spliing tidak presisi.
Kabel tertekuk tajam atau rusak.
Solusi: bersihkan konektor, ulang splicing, dan periksa jalur kabel agar tidak ada tekukan ekstrem.
Jelaskan prinsip kerja fusion splicer secara singkat dan mengapa hasil cleaving serat harus sangat presisi?
Fusion splicer menyambung dua serat optik dengan cara melelehkan ujung serat menggunakan busur listrik hingga menyatu. Hasil cleaving harus presisi agar ujung serat rata, sehingga sambungan minim redaman.
Mengapa diperlukan pengujian menggunakan OTDR selain OPM/OLS untuk memvalidasi kualitas instalasi jaringan FO?
OPM/OLS hanya mengukur total redaman.
OTDR mampu mendeteksi posisi gangguan (putus, sambungan buruk, tekukan) sepanjang kabel.
Jadi OTDR digunakan untuk analisis detail kualitas instalasi dan troubleshooting.
8. Kesimpulan
Tuliskan kesimpulan dari praktikum yang telah
Anda lakukan.
Praktikum jaringan FO outdoor mengajarkan pentingnya K3, pemilihan kabel dan komponen yang tepat, serta ketelitian dalam splicing dan pengujian. Perancangan yang matang diperlukan agar instalasi efisien dan minim gangguan. Faktor krusial keberhasilan meliputi keselamatan kerja, pemilihan material, kerapihan jalur, kualitas sambungan, dan uji redaman jaringan.
Apa saja pelajaran penting yang Anda peroleh dari praktikum perancangan dan pemasangan jaringan fiber optik outdoor ini?
Bagaimana pentingnya perancangan yang matang sebelum melakukan proses instalasi?
Sebutkan poin-poin krusial yang harus diperhatikan untuk menjamin keberhasilan instalasi jaringan FO outdoor.
Elemen Teknologi Jaringan Kabel dan Nirkabel
Fase F
Mata Pelajaran: Teknologi Kabel dan Jaringan Nirkabel
Topik: Instalasi dan Konfigurasi Jaringan PPPoE FTTH
Alokasi Waktu: 6 x 45 menit (disesuaikan)
A. TUJUAN PEMBELAJARAN:
Setelah menyelesaikan LKPD ini, peserta didik diharapkan mampu:
1. Menjelaskan konsep dasar FTTH (Fiber to The Home) dan PPPoE (Point-to-Point
Protocol over Ethernet).
2. Memahami peran ONT/ONU dan Router dalam jaringan PPPoE FTTH.
3. Melakukan konfigurasi interface PPPoE Client pada router.
4. Mengkonfigurasi NAT (Network Address Translation) agar perangkat lokal dapat
terhubung ke internet.
5. Melakukan pengujian konektivitas internet dari perangkat klien.
6. Menganalisis parameter PPPoE yang diberikan oleh ISP.
B. TEORI SINGKAT:
1. FTTH (Fiber to The Home):
FTTH adalah arsitektur jaringan yang menggunakan serat optik dari kantor pusat penyedia
layanan internet (ISP) langsung ke rumah atau kantor pelanggan. Teknologi ini menawarkan
kecepatan transfer data yang jauh lebih tinggi dan stabil dibandingkan kabel tembaga. Dalam
implementasinya, perangkat di sisi pelanggan disebut ONT (Optical Network Terminal) atau
ONU (Optical Network Unit).
2. PPPoE (Point-to-Point Protocol over Ethernet):
PPPoE adalah protokol jaringan yang digunakan untuk membungkus paket data PPP dalam
frame Ethernet. PPPoE memungkinkan ISP untuk melakukan otentikasi (verifikasi username dan
password) dan akuntansi (pencatatan penggunaan data) pada setiap sesi koneksi internet. Ini
adalah metode yang sangat umum digunakan oleh ISP FTTH untuk memberikan layanan
internet.
3. Alur Jaringan PPPoE FTTH (Sisi Pelanggan):
● Serat optik dari ISP terhubung ke ONT/ONU.
● ONT/ONU mengkonversi sinyal optik menjadi sinyal elektrik (Ethernet).
● Kabel LAN dari ONT/ONU terhubung ke Router (biasanya port WAN).
● Di dalam Router, Anda akan mengkonfigurasi PPPoE Client dengan username dan
password yang diberikan oleh ISP.
● Router akan terhubung ke internet.
● Perangkat di rumah (PC, HP) terhubung ke Router (via kabel LAN atau WiFi) dan
mendapatkan IP lokal dari Router (DHCP).
● Router melakukan NAT untuk meneruskan koneksi dari perangkat lokal ke internet.
C. ALAT DAN BAHAN:
1. Virtual Machine (VM) atau Router fisik yang akan disimulasikan sebagai Router
Mikrotik.
2. Virtual Machine (VM) yang akan menjadi komputer klien (Windows atau Linux).
3. Software Virtualisasi: Oracle VirtualBox, VMware Workstation Player/Pro, atau
Hyper-V.
4. Koneksi jaringan virtual untuk simulasi:
o Satu adaptor jaringan di Mikrotik Router yang terhubung ke jaringan WAN
virtual (simulasi dari ONT).
o Satu adaptor jaringan di Mikrotik Router yang terhubung ke jaringan LAN
virtual.
o Satu adaptor jaringan di komputer klien yang terhubung ke jaringan LAN virtual
yang sama dengan Mikrotik.
5. Aplikasi untuk konfigurasi Mikrotik: Winbox (untuk Windows) atau SSH/CLI (untuk
Linux/macOS).
6. Web Browser (Google Chrome, Mozilla Firefox, dll.) di komputer klien untuk pengujian.
7. Lembar kerja dan alat tulis.
D. KESELAMATAN KERJA:
1. Pastikan sumber daya listrik stabil.
2. Ikuti instruksi dengan cermat.
3. Berhati-hatilah saat mengkonfigurasi router.
4. Laporkan kepada guru/instruktur jika ada kendala.
5. Pastikan semua adaptor jaringan virtual telah diatur dengan benar agar tidak terjadi
konflik IP.
E. LANGKAH KERJA:
BAGIAN 1: PERSIAPAN TOPOLOGI JARINGAN VIRTUAL
1. Siapkan Router Mikrotik:
o Pastikan Mikrotik Router memiliki 2 adaptor jaringan.
o Adaptor 1: Hubungkan ke jaringan WAN Virtual (misal: Internal Network
dengan nama WAN-Network). Ini akan menjadi port ether1.
o Adaptor 2: Hubungkan ke jaringan LAN Virtual (misal: Internal Network
dengan nama LAN-Network). Ini akan menjadi port ether2.
2. Siapkan Komputer Klien:
o Hubungkan satu adaptor jaringan di komputer klien ke jaringan LAN Virtual
yang sama dengan Mikrotik (LAN-Network).
o Atur konfigurasi IP pada adaptor ini menjadi DHCP Client (Obtain an IP
address automatically).
BAGIAN 2: KONFIGURASI MIKROTIK ROUTER
1. Login ke Mikrotik Router:
o Buka Winbox dari komputer host atau klien (jika berada di subnet yang sama).
o Login dengan username default admin (tanpa password) atau sesuai konfigurasi
awal Anda.
2. Identifikasi Interface:
o Pada menu Winbox, buka Interfaces.
o Beri nama setiap interface agar mudah dikenali:
▪ ether1 -> ether1-WAN
▪ ether2 -> ether2-LAN
3. Konfigurasi PPPoE Client:
o Pada menu Winbox, buka PPP > tab Interface > klik tombol + > pilih PPPoE
Client.
o Di jendela New Interface:
▪ Name: pppoe-out1 (default)
▪ Interfaces: Pilih ether1-WAN.
o Pindah ke tab Dial Out:
▪ User: Masukkan username PPPoE yang diberikan oleh ISP (misal:
userftth@isp.net).
▪ Password: Masukkan password PPPoE.
▪ Centang Add Default Route dan Use Peer DNS.
o Klik Apply, lalu OK.
4. Verifikasi Koneksi PPPoE:
o Kembali ke menu PPP > tab Interface.
o Lihat status pppoe-out1. Jika berhasil terhubung, status akan R (running).
o Buka menu IP > Addresses. Anda akan melihat IP Address publik telah
diberikan ke pppoe-out1 secara otomatis.
o Uji konektivitas ke internet dari Mikrotik:
▪ Buka menu New Terminal.
▪ Ketik ping google.com. Jika berhasil, akan ada balasan.
5. Konfigurasi IP Address LAN dan DHCP Server:
o Buka menu IP > Addresses.
o Klik tombol +.
o Di jendela New Address:
▪ Address: Masukkan IP lokal untuk jaringan LAN Anda (misal:
192.168.x.123 (x = no_urut_absen)/24).
▪ Interface: Pilih ether2-LAN.
o Klik Apply, lalu OK.
o Buka menu IP > DHCP Server.
o Klik tombol DHCP Setup.
o DHCP Server Interface: Pilih ether2-LAN. Klik Next dan ikuti panduan hingga
selesai (biarkan default).
6. Konfigurasi NAT (Network Address Translation):
o Buka menu IP > Firewall > tab NAT.
o Klik tombol +.
o Di jendela New NAT Rule:
▪ Tab General:
▪ Chain: Pilih srcnat.
▪ Out. Interface: Pilih pppoe-out1.
▪ Tab Action:
▪ Action: Pilih masquerade.
o Klik Apply, lalu OK.
BAGIAN 3: PENGUJIAN KONEKTIVITAS DARI KLIEN
1. Verifikasi IP di Komputer Klien:
o Di komputer klien Windows/Linux, buka Command Prompt atau Terminal.
o Ketik ipconfig /all (Windows) atau ip a (Linux).
o Pastikan IP Address yang didapat berada dalam rentang IP yang Anda set di
Mikrotik
o Pastikan Default Gateway adalah 192.168.x.123 (x = no_urut_absen).
2. Uji Konektivitas Internet:
o Dari komputer klien, buka Command Prompt atau Terminal.
o Ketik ping 8.8.8.8 (untuk menguji koneksi ke Google DNS).
o Ketik ping google.com (untuk menguji resolusi DNS dan koneksi internet).
o Jika berhasil, Anda dapat membuka web browser dan mengakses situs web apa
pun.
F. HASIL PENGAMATAN / ANALISIS:
1. Jelaskan perbedaan mendasar antara jaringan FTTH dan jaringan ADSL atau kabel
tembaga!
FTTH pakai serat optik (cepat, stabil, simetris), sedangkan ADSL/tembaga pakai kabel telepon (lebih lambat, rentan gangguan, asimetris).
2. Mengapa NAT diperlukan dalam konfigurasi ini? Apa yang terjadi jika NAT tidak
dikonfigurasi?
NAT menerjemahkan IP private ke IP publik; tanpa NAT, klien tidak bisa akses internet.
3. Jelaskan fungsi dari PPPoE Client di Mikrotik!
PPPoE Client di Mikrotik dipakai untuk login ke ISP dengan user & password agar router mendapat IP.
4. Apa yang Anda amati dari hasil ping google.com di terminal Mikrotik dan di komputer
klien? Apa perbedaannya dan mengapa?
Ping dari Mikrotik lebih cepat karena langsung ke internet, sedangkan dari klien lewat router dulu.
5. Apa yang dimaksud dengan Use Peer DNS dalam konfigurasi PPPoE Client?
Use Peer DNS membuat Mikrotik otomatis pakai DNS dari ISP; jika tidak, harus atur manual.
6. Jika klien tidak mendapatkan IP Address secara otomatis, di bagian mana dari
konfigurasi yang kemungkinan besar bermasalah?
Klien tidak dapat IP biasanya karena DHCP Server bermasalah (belum aktif, pool habis, atau interface belum diberi IP).
7. Mengapa PPPoE masih banyak digunakan oleh ISP untuk pelanggan rumahan, padahal
ada metode lain seperti DHCP?
PPPoE masih dipakai ISP karena ada autentikasi, mudah untuk billing, dan kontrol pelanggan lebih baik.
G. KESIMPULAN:
Buatlah kesimpulan mengenai pengetahuan dan keterampilan yang Anda peroleh setelah
menyelesaikan LKPD ini. Jelaskan bagaimana protokol PPPoE dan teknologi FTTH bekerja
sama untuk memberikan koneksi internet yang cepat dan aman, serta bagaimana router seperti
Mikrotik dikonfigurasi untuk menghubungkan jaringan lokal pelanggan ke internet.
PPPoE mengatur login pelanggan dengan username dan password agar aman, sedangkan FTTH menyediakan jalur serat optik yang cepat dan stabil. Router seperti Mikrotik dikonfigurasi sebagai PPPoE Client untuk terhubung ke ISP, memakai NAT agar klien bisa akses internet, dan DHCP Server untuk memberi IP otomatis ke perangkat lokal.
H. PENILAIAN:
No Keterangan
Poin maksimal
1 Keberhasilan pekerjaan
30
2 Kemampuan bernalar
35
3 Kelengkapan dokumentasi (upload )
30
LAMPIRAN (Penugasan):
● Screenshot Winbox dengan konfigurasi PPPoE Client yang sudah Running.
● Screenshot Winbox dengan konfigurasi NAT.
● Screenshot hasil ping google.com dari terminal Mikrotik.
● Screenshot ipconfig /all (Windows) atau ip a (Linux) dari klien yang sudah
mendapatkan IP.
● Screenshot hasil ping google.com dari terminal klien.
● Diagram topologi jaringan yang dibuat.
● Upload hasil pekerjaan
Kelompok Patch pannel dan management LAN video presentasi :